BELAJAR IKHLAS
A. OTORITAS SYARI’AT ISLAM – LILLAH/ IHLAS –
1. Pengertian Lillah
LILLAH
adalah tujuan dan maksud seseorang lahir bathin semata-mata niat ta’at
mengabdikan diri kepada Alloh dalam semua amal yang ubudiyah maupun mu’amalah,
melalui tatanan syari’at yang dibawa oleh Rosul SAW; baik perkara wajib, sunah
dan mubah, karena firman Alloh dalam QS Al-Bayyinah 5 :
ومآ أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
“Mereka tidak
diperintah kecuali supaya agar menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan
kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan ihlas (Lillah)”.
Dan firman Alloh dalam QS
Adz-Dzariyat 56 :
ومآ خلقت الجن والانس الا ليعبدون.
“Aku tidak menciptakan
jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdi”.
Rosul SAW bersabda :
انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما
نوى الحديث (متفق عليه)
“Sesungguhnya semua
amal itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan
niatnya”. (Mutafaqun Alaihi)
Adapun bunyi hadist
:”Innamal A’maalu” adalah semua amal syari’at badaniyah; baik berupa ucapan
maupun amal perbuatan orang mu’min itu akan dihisab (dinilai) apabila ada
niatnya, sebaliknya amal itu tidak akan dihisab apabila tanpa niat, dan tidak
ada suatu amal kecuali dengan niat.
2. Pengertian Niat
Niat menurut bahasa adalah
“Qhosdun” (maksud). Dan menurut syari’at adalah memaksudkan sesuatu bersamaan
dengan melakukan sesuatu itu. Adapun arti hadist yang berbunyi : “Seseorang
mendapat balasan sesuai dengan niatnya” adalah balasan amal. Apabila niatnya
baik, maka balasannya adalah kebaikan (pahala), dan apabila niatnya jelek, maka
balasanya kejelekan (tanpa pahala), dan niat orang mu’min itu lebih baik dari
pada amalnya. Adapun ihlasnya niat itu Lillahi Ta’aala (hanya karena Alloh).
Maka pintunya kebaikan itu dari baiknya niat dan pintu kejelekan dari jeleknya
niat, karena niat itu kepala amal dan ia
sebagai foundation (dasar), dan diatas foundation itu berdirinya sebuah
bangunan.
Rosul SAW bersabda :
اخلصوا
اعمالكم لله فان الله لا يقبل الا ما خلص له (رواه
الطبرانى عن الضحاك بن قيس)
“Ikhlaskan amalmu
hanya kerena Alloh (Lillah), sebab Alloh tidak akan menerima amal
kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.
Dalam hadist yang lain,
Beliau SAW bersabda :
أخلص العمل لله يجزك منه القليل (رواه
الديلمى عن معاذ رضىالله عنه)
“Ikhlaskanlah amalmu, maka amal ikhlas yang sedikit saja sudah
memadai (mencukupi) bagimu”.(HR
Abu mansur dan Ad-Dailami)
Ikhlas menurut Imam Qhozaly
adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena Alloh. Begitu pula Syeh
Zaini Dahlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah apabila ada kesamaan antara
lahir dan batin seseorang dalam menjalankan amal; artinya secara lahir ia
menjalankan amal perintah Alloh, dan hatinya niat karena Alloh. Maka ia tidak
akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.
Rosul SAW bersabda :
ما من عبد يخلص لله العمل اربعين يوما الا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه (رواه ابن الجوزى وابن العدى عن ابى موسى الاشعرى رضىالله عنه)
“Tidak ada orang
yang ikhlas beramal karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar
sumber-sumber nur hikmah dari dalam hatinya sampai ke lisannya”.
(HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy
dari Abi Musa Al-Asy’ary ra ).
Dan sabda SAW yang lain
berbunyi :
من احب لله وابغض
لله واعطى لله ومنع لله فقد استكمل الايمان (رواه
ابو داود والضياء عن ابى أمامة باسناد صحيح)
“Barangsiapa cinta
karena Alloh (Lillah), benci karena Alloh, memberi karena Alloh dan menolak
(tidak memberi) karena Alloh, maka sungguh telah sempurna imannya”.
(HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’
dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).
Ditegaskan pula dalam hadist
SAW yang lain :
طوبى للمخلصين أولئك
مصابيح الهدى تنجلى عنهم كل فتنة ظلمآء (رواه ابو
نعيم عن ثوبان)
“Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas.
Mereka-mereka itulah sebagai lampu-lampunya petunjuk, dimana segala fitnah yang
digambarkan sebagai kegelapan menjadi jelas bagi mereka”. (HR. Abu Nu’aim dari Tsauban)
Dengan demikian, maka wajib
bagi seseorang ketika menjalankan amal untuk niat karena Alloh (Lillah).
Apabila tidak demikian, pasti ia karena didorong oleh nafsu (Linafsi). Dan amal
yang didorong oleh nafsu akan melahirkan riya’, sum’ah (ingin terkenal),
riyasah (membanggakan amal), chubbul jahi wal maali wal madchi ( pamrih
kedudukan, materi dan pujian) dan sebagainya. Padahal semua sifat tersebut
sangat tercela menurut syari’at Rosul SAW, dan dapat menghancurkan pahala amal.
Orang yang berbuat demikian termasuk orang beriman secara lisan, namun munafiq
dalam amal, bahkan ia sebagai budak syaithon dan penipu Tuhan. Dan menurut Imam
Qhozali “Semua amal dengan tujuan selain Alloh adalah campur dengan syirik, dan
amal yang campur baginya tanpa pahala. Dan ikhlas adalah kebalikan dari syirik,
maka barangsiapa yang tidak ikhlas, ia adalah musyrik, meskipun syirik itu
bertingkat-tingkat”.
Rosul SAW bersabda:
قال تعالى: أنا أغنى
الشركآء عن الشرك أنا غنى عن الذى فيه شركة لغيرى فمن عمل عملا أشرك فيه غيرى فأنا
منه برئ (ذكره الفقيه السمرقندى فى تنبيه
الغافلين من حديث ابى هريرة رضىلله عنه)
“Alloh berfirman:
“Aku adalah jauh dari persekutuan dan Aku cukup dengan diri-Ku sendiri tanpa
persekutuan. Maka barangsiapa menyekutukan amal selain Aku, Aku terlepas
darinya”. ( disebutkan oleh ahli fiqh Syeh As-Samroqondy dalam kitab
Tanbihul ghofilin dari hadist Abi Huroiroh ra).
Rosul SAW bersabda:
ان الله لا يقبل من
العمل الا ما كان خالصا وابتغى به وجهه (رواه النساء
عن ابى أمامة)
“Sesungguhnya Alloh
tidak menerima dari suatu amal kecuali amal yang ikhlas, maka hendaklah kamu
beramal ikhlas karena Alloh (Lillah)”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).
Diceritakan dalam kitab Tanbihul
Ghofilin, ada seorang bertanya kepada
Nabi SAW: “Yaa Rosulalloh di dalam apa keselamatan itu……? Rosul SAW menjawab:
“Hendaknya kamu tidak menipu Alloh..! lalu ia bertanya lagi: “Bagaimana kami
bisa menipu Alloh…..?. kemudian Rosul SAW bersabda: “kamu mengerjakan amal yang
diperintah Alloh, dan kamu punya tujuan (niat) selain Alloh”.
Imam Qhozaly mengatakan bahwa
“Ikhlas dalam amal itu hendaknya orang yang beramal tidak mengharapkan balasan
di dunia maupun di akhirat”. Ini isyarah yang menunjukkan bahwa kemauan nafsu
itu jahat, tergesa-gesa ingin berhasil, serta seseorang tidak lepas dari
gangguan syaithon kecuali orang yang ikhlas. Alloh berfirman Qs Al-hajr 39-40 :
قال رب بما اغويتنى
لأزينن لهم فى الأرض ولأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين
“Iblis berkata:
“Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan
menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siat di muka bumi ini,
dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang
ikhlas diantara mereka”.
Oleh sebab itu sungguh
sia-sia golongannya para ahli ibadah (secara lahiriyah) mereka banyak membaca
Al-Qur’an, melakukan sholat dan puasa, namun mereka selalu riya’, membangggakan amal dan tidak
ikhlas. Padahal kepalanya amal itu tauhid; artinya seseorang tidak ibadah
(mengabdi) kecuali hanya karena Alloh (Lillah), dan barangsipa mengikuti
nafsunya (Linafsi), maka sungguh ia telah mempertuhan hawa nafsunya dan ia
sebagai orang yang bertauhid (iman) secara lisan, tidak dengan hatinya. Dan
tidak ada bedanya antara orang-orang yang ibadah karena nafsunya (linafsi)
dengan orang yang menyembah berhala, karena keduanya sebagai pengabdi
(penyembah), namun menyembah selain Alloh.
Alloh berfirman dalam QS
Al-Qoshos 50 :
ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من
الله.
“Siapakah orang
yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang tidak
mendapat petunjuk dari Alloh”.
Rosul SAW bersabda :
ابغض اله عبد عند الله فى الأرض هو
الهوى (رواه الطبرانى عن ابى أمامة).
“Berhala-berhala
sesembahan diatas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR.
Thobroni dari Abi Umamah).
Adapun orang yang luas
pandangannya dan tinggi ilmunya, maka ia akan mempergunakan akal fikirannya
dalam memahami sabda Nabi SAW yang berbunyi: “Innamal ‘A’maalu binniyat”. Dan
ia akan menjadikan kandungan hadist tersebut sebagai bagian dari gerak dan
diamnya, sehingga ia tidak melakukan dan meninggalkan amal, kecuali dengan niat
yang baik dan tujuan yang benar; yaitu semata-mata niat karena Alloh (Lillah).
Maka dengan demikian semua amal perbuatanya menjadi “Ibadah” dan balasan
amalnya (pahala) itu akan menjadi haknya, serta kembalinya adalah taqorub
(mendekatkan diri kepada Alloh).
Oleh sebab itu hendaklah
kita punya niat yang baik di dalam melakukan amal perbuatan, sampai bisa
membuat perkara mubah menjadi nilai ta’at (ibadah) kepada Alloh, karena perkara
mubah itu bisa menjadi nilai ta’at dengan niat yang baik; yaitu Lillah. Dan di
dalam perkara haram dan makruh, maka meninggalkannya harus niat karena
diperintah Alloh (Lillah), sehingga akan berbeda dengan kefahaman orang bodoh
yang menganggap bahwa kema’siatan bisa berubah menjadi ta’at dengan niat yang
baik, karena berpedoman pada bunyi hadist “Sesungguhnya amal itu tergantung
niatnya”. Dan ia tidak menyadari bahwa sesunggunya kebaikan itu adalah perkara
yang sudah diketahui kebaikannya secara hukum syari’at, maka bagaimana mungkin
perkara jelek (ma’siat) bisa berubah menjadi perkara baik. Itu sangat mustahil
dan jauh sekali…!
Rosul SAW bersabda:
الحلال ما أحل الله
فى كتابه والحرام ما حرم الله فى كتابه وما سكت عنه مما عفى عنه
(رواه الترمذى
والبيهقى والحاكم عن سلمان باسناد صحيح)
“Halal itu perkara
yang sudah dihalalkan Alloh dalam kitab-Nya, dan haram adalah perkara yang
sudah diharamkan Alloh dalam kitab-Nya. Dan perkara yang tidak dihukumi itu
boleh dilakukan”. (HR. Turmudzi, baihaqi, Hakim dari Salman dengan sanad
shoheh).
3. Beramal Karena Takut Dan Pengharapan
Lillah (ihklas) semata-mata karena dan untuk Alloh itu, bukan berarti
menutup pintu harapan ingin terhadap pahala, surga dan sebagainya atau takut
siksa neraka dan sebagainya. Kita harus ingin kepada hal-hal yang baik yang
menguntungkan dan harus takut kepada hal-hal yang buruk yang merugikan. Akan
tetapi di dalam kita ingin atau takut itulah yang harus kita niati ibadah
Lillah, sebab kita memang diperintah supaya berharap kepada pahala, surga dan
lain-lain, dan supaya takut kepada siksa neraka dan lain-lain. Jadi amal-amal
ibadah kita apa saja seperti Sholat, puasa, baca Al-Qur’an, dzikir, baca
Sholawat, menolong orang lain dan sebagainya jangan sampai didorong oleh rasa
ingin atau takut, melainkan didorong oleh pengabdian diri, niat ibadah kepada
Alloh dengan ikhlas tanpa pamrih “Lillahi Ta’aala”.
Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 29 :
وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم
تعودون.
“Sembahlah Alloh dengan meng-ikhlas-kan keta’atanmu kepada-Nya”.
Alloh berfirman dalam QS
Al-A’rof 55 :
وادعوه خوفا وطمعا ان رحمت الله قريب من المحسنين
“Dan beribadahlah
kepada Alloh dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Alloh itu amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.
4. Kerugiannya Orang Yang Tidak
Lillah
Orang yang tidak Lillah, namanya Lighoirillah. Berbuat dan beramal
tidak karena Alloh melainkan karena selain Alloh. Istilah Wahidiyah disebut
Linafsi. Berbuat atau beramal hanya karena menuruti keinginan dan kemauan hawa
nafsunya. Kelihatan ta’at hanya pada lahiriyahnya saja. Sedang batinya adalah
menuruti nafsu, berarti dia diperalat oleh nafsunya. Diperbudak nafsunya.
Dengan kata lain dia mengabdi atau menyembah kepada hawa nafsunya sendiri !.
dan orang yang demikian inilah yang termasuk golongan orang yang amal ibadahnya
tidak diterima dan tidak mendapat petunjuk dari Alloh.
Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :
ومن أضل ممن اتبع
هواه بغير هدى من الله ط ان الله لا يهدى القوم الظلمين.
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang
mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun ?.
sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim”.
Nabi SAW bersabda :
ان الله تعالى لا
يقبل من العمل الا ما كان له خالصا وابتغى به وجهه (رواه
النسائى عن ابى أمامة)
“Sesungguhnya Alloh tidak menerima daripada amal kecuali amal
yang sungguh-sungguh ikhlas (Lillah) semata-mata mengharap ridlo-Nya”. (HR. Nasa’i dari Abi Umamah).
Kesimpulannya orang yang beramal ibadah hanya menurut kemauan nafsunya,
amal perbuatan apa saja berarti ia menyembah kepada nafsunya sendiri. Dia
adalah hamba daripada nafsunya, dia mempertuhan nafsunya. Dan nafsu itu adalah
yang paling dimurkai oleh Alloh, maka dengan sendirinya orang yang menjadi
hamba nafsu itulah orang yang paling dimurkai Alloh.
Nabi SAW bersabda :
ابغض إله عبد عند الله فى الأرض هو
الهوى (رواه الطبرانى عن ابى أمامة الباهلى )
“Berhala sesembahan di bumi yang paling dimurkai dan dikecam
oleh Alloh adalah “hawa nafsu”.
(HR. Tobroni dari Abi Umamah Al-bahili)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar