Rabu, 23 Januari 2013

SEJARAH PA


 SEKILAS SEJARAH PESANTREN AT-TAHDZIB

Secara historis, Pesantren At-Tahdzib (PA) dirintis pertama kali oleh Hadratus – Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin di desa Payak Mundil Ngoro Jombang pada tahun 1958. Bahkan ketika itu sudah sempat didirikan bangunan pondok. Berdirinya pondok pesantren At-Tahdzib berawal dari adanya keinginan beberapa pemuda yang ingin menimba ilmu kepada Hadratus –Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin yang saat itu dikenal seorang yang mumpuni dalam bidang agama serta sabar, gigih, teguh pendirian, dan banyak riyadlah (menepa diri dengan puasa, dzikir, dan tafakkur), kemudian mereka melakukan kegiatan tersebut di rumah beliau. Karena keuletan dan daya karismatiknya sehingga nama beliau dikenal tidak hanya di wilayah Jawa Timur saja, akan tetapi hingga Jawa Tengah. Seiring perkembangan waktu, jumlah santri bertambah dan berkembang hingga memiliki elemen – elemen seperti mushalah, tempat belajar, dan pondokan yang meskipun pada awalnya amat sederhana, maka berubahlah statusnya menjadi sebuah pesantren.
Kemudian, karena beberapa pertimbangan strategis, pada tahun 1960 (tepat pada tanggal 17 syawal) PA dipindah ke Rejoagung Ngoro Jombang sampai sekarang. Dengan demikian ,PA sekarang berusia 46 tahun.
Pendirian PA dilatar belakangi oleh niat tulus –ikhlas Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin untuk menyebarkan ajaran agama Allah dan membantu para pencari ilmu Allah dengan tujuan li I’lai kal;imatillah (menjunjung tinggi agama Allah).
Hadratus Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin adalah putra pendatang dari Jawa Tengah, tepatnya dari desa Surupan, kecamatam Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Beliau belajar ilmu agama tidak dari satu pesantren saja, tapi dari ulama dari berbagai pesantren khususnya Jawa Timur,di antaranya adalah pesanteren Sidosremo Surabaya dalam kepengasuhan Haratus-Syaikh Romo KH. Mas Muhajir.
Setelah masa perintisan PA mencapai jumlah kurang lebih 700 santri, kepemimpinan dan kepengasuhan PA dilanjutkan oleh putra tertua beliau, yakni Almukarram Romo K. Ahmad Masruh IM dan di dukung oleh semua pihak , maka pesantren ini berkembang dengan pesat hingga saat ini telah memiliki sekiter 1000 santri dari berbagai propinsi di Indonesia.
Keberadaan Pesantren At-Tahzib sekarang merupakan hasil dari sederetan usaha yang dirintis dan dikokohkan oleh Hadratus –syeh KH. Ihsan Mahin, kemudian dikembangkan oleh Almukarram Romo K. Ahmad Masruh IM. Keingginan mulia hadratus –syeh Romo kh Ihsan Mahin untuk mengabdikan ilmu kepada agama dan masyarakat diikuti oleh segenap usaha lahir dan batin beliau. Bahkan salah satu hal yang cukup tandas adalah peran keterlibatan keluarga dalam masa-masa awal pembangunan pondok sampai sekarang. Menurut informasi dari bebrapa sumber terpercaya, bahwa saat membangun pondok, Hadratus–syeh Romo KH. Ihsan Mahin bersama anggota keluarganya hidup prihatin selama 40 hari. Tradisi hidup prihatin ini dilakukan hampir setiap tahun, Karena kebutuhan sarana gudung seiring dengan semakin bertambahnya jumlah santri yang ingin belajar kepada beliau. Sebagian besar hasil panen tanaman milik keluarga digunakan untuk biaya pembangunan pondok.
Di samping itu, peran para santri juga besar dalam realisasi seluruh bangunan pondok, pendidikan formal, dan unit-unit yang ada di bawahnya, karena mereka menanamkan amal jariyah berupa tenaga untuk itu. Hal tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Singkatnya, siapapun yang pernah belajar (nyantri) di PA, khususnya santri putra, maka dia sedikit banyak pernah menanamkan amal jariyah dalam realisasi seluruh bangunan tersebut.
Seluruh amal jariyah para santri tersebut sangat mulia dan berharga bagi mereka sendiri, agama maupun masyarakat luas. Sebab, gedung-gedung tegak dengan tujuan mulia untuk mencetak para alim yang kelak diharapkan ilmunya menjadi parapioner yang meneruskan perjuangan Islam untuk membina dan membimbing masyarakat agar faham agama dan menjadi pengamal agama yang baik
Selain para santri , peran masyarakat sekitar juga besar, khususnya dalam masa-masa awal (babat alas) pendirian PA. dengan rasa syukur dan penghargaan yang tinggi atas keberadaan PA, mereka (masyarakat sekitar) ikut berpartisipasi dalam bentuk apapun sesuai dengan kemampuanya. Bahkan beberapa pelaku sejarah mengisahkan keterlibatan para ibu masyarakat sekitar untuk ikut mengusung bamboo, kayu, dan batu bata untuk cikal bakal pembangunan gedung-gedung pondok. Dengan segenap syukur dan ketulusanya, mereka juga memberikan apapun yang bisa mereka berikan, meski itu berupa ubi kayu (pohong) atau air putih kepada para santri dan masyarakat yang ikut kerja bakti dalam guthekan (gedung sederha dalam masa awal pondok) dan gedung-gedung lainya.
Pesantren terbesar dalam kecamatan Ngoro ini memiliki model pendidikan praktis dalam ‘ubudiyah, disamping teori sebagaimana model pendidikan pondok pesantren yang lain. Hal itu ditetapkan sebagai pegejawatahan dari visi, misi, dan tujuan PA.
Visi PA adalah “menjadi pesantren salaf yang kokoh dengan pilar-pilar Ahlaq mulia dan kecerdasan spiritual- Emosial-Intelektual”.
Misi PA adalah (1) menunjang program pemerintah dalam bidang agama, pendidikan, sosial, dan budaya, (2) membentuk insan yang bertakwa kepda Allah dan Rasul-Nya, berilmu dan beramal soleh ,serta ikhlas berbakti kepada agama, nusa-bangsa, dan Negara.
Tujuan PA adalah “mencetak kader intelek yang wali dan wali intelek. “ Istilah “intelek” dimaksudkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan mampu mengaplikasikannya. Sedangkan istilah “wali” dimaksudkan hatinya senantiasa berdzikir kepada Allah SWT dan Takhalluq bi Akhlaqi Rasulillah SAW. Visi dan misi ini ditegakkan diatas prinsip-prinsip moral islami dan akhlaq mulia (al-akhlaq al- karimah).
Sejalan dengan visi dan misi tersebut, maka Pesantren At-tahdzib merasa perlu memasukan dan mengembangkan kurikulum pendidikannya dengan mendirikan lembaga pendidikan formal, sehingga saat ini Pesantren At-Tahdzib telah memiliki beberapa lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat Madrasah Tsanawiyah (SLTP) sampai dengan perguruan tinggi (PT

Rabu, 16 Januari 2013

LOGO IHSANNIAT-CILACAP

MAKNA LOGO IHSANNIAT:
IHSANNIAT: Singkatan "Ikatan Hikma Santri dan Alumni At-tahdzib", yg ada di PA.
CILACAP JATENG INDONESIA: Rasa Persatuan, Mengikat kembali Yang ada di Cilacap.
WARNA EMAS: Nilai Kandungan Yang berharga
Fafirru Illalloh: wujud doa untuk mengajak sadar kepada Allah di ambil dari Al-qur'an, bertuliskan hitam mempunyai arti berangkat dengan kehitaman (dosa). dasar kuning mempunyai makana segera lanjutkan dengan hati-hati.
PA: singkatan Pesantren At-tahdzib. yang berinduk di Kab. Jombang Jatim
BOLA DUNIA: Cakrawala Perjuangan tanpa batas dimuka bumi
BOLA PUTIH: Berselimut Dengan kebenaran
BINTANG DUA: Landasan Al-Qur'an (Allah. SWT) dan Sunah Rosul (Muhammad SAW).
TERATAI SEMBILAN: Wujud Adanya Para Wali
BEGRON HIJAU: Lambang Perdamaian, Keberlanjutan
ngan
9 TERATAI HITAM PUTIH: Watak, sifat atau peradapan dalam perjalanan hidup manusia









Jumat, 04 Januari 2013

IHKLAS



 BELAJAR IKHLAS


A. OTORITAS SYARI’AT ISLAM – LILLAH/ IHLAS –



1. Pengertian Lillah

LILLAH adalah tujuan dan maksud seseorang lahir bathin semata-mata niat ta’at mengabdikan diri kepada Alloh dalam semua amal yang ubudiyah maupun mu’amalah, melalui tatanan syari’at yang dibawa oleh Rosul SAW; baik perkara wajib, sunah dan mubah, karena firman Alloh dalam QS Al-Bayyinah 5 :

ومآ أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين


“Mereka tidak diperintah kecuali supaya agar menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan ihlas (Lillah)”.



Dan firman Alloh dalam QS Adz-Dzariyat 56 :

ومآ خلقت الجن والانس الا ليعبدون.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdi”.



Rosul SAW bersabda :

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى الحديث (متفق عليه)

“Sesungguhnya semua amal itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya”. (Mutafaqun Alaihi)



Adapun bunyi hadist :”Innamal A’maalu” adalah semua amal syari’at badaniyah; baik berupa ucapan maupun amal perbuatan orang mu’min itu akan dihisab (dinilai) apabila ada niatnya, sebaliknya amal itu tidak akan dihisab apabila tanpa niat, dan tidak ada suatu amal kecuali dengan niat.



2. Pengertian Niat


Niat menurut bahasa adalah “Qhosdun” (maksud). Dan menurut syari’at adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan melakukan sesuatu itu. Adapun arti hadist yang berbunyi : “Seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya” adalah balasan amal. Apabila niatnya baik, maka balasannya adalah kebaikan (pahala), dan apabila niatnya jelek, maka balasanya kejelekan (tanpa pahala), dan niat orang mu’min itu lebih baik dari pada amalnya. Adapun ihlasnya niat itu Lillahi Ta’aala (hanya karena Alloh). Maka pintunya kebaikan itu dari baiknya niat dan pintu kejelekan dari jeleknya niat, karena niat itu kepala amal dan  ia sebagai foundation (dasar), dan diatas foundation itu berdirinya sebuah bangunan.



Rosul SAW bersabda :

اخلصوا اعمالكم لله فان الله لا يقبل الا ما خلص له (رواه الطبرانى عن الضحاك بن قيس)

“Ikhlaskan amalmu hanya kerena Alloh (Lillah), sebab Alloh tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.



Dalam hadist yang lain, Beliau SAW bersabda :

أخلص العمل لله يجزك منه القليل (رواه الديلمى عن معاذ رضىالله عنه)

“Ikhlaskanlah amalmu, maka amal ikhlas yang sedikit saja sudah memadai (mencukupi) bagimu”.(HR Abu mansur dan Ad-Dailami)



Ikhlas menurut Imam Qhozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena Alloh. Begitu pula Syeh Zaini Dahlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah apabila ada kesamaan antara lahir dan batin seseorang dalam menjalankan amal; artinya secara lahir ia menjalankan amal perintah Alloh, dan hatinya niat karena Alloh. Maka ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.



Rosul SAW bersabda :

ما من عبد يخلص لله العمل اربعين يوما الا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه (رواه ابن الجوزى وابن العدى عن ابى موسى الاشعرى رضىالله عنه)


“Tidak ada orang yang ikhlas beramal karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber nur hikmah dari dalam hatinya sampai ke lisannya”.

(HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary ra ).



Dan sabda SAW yang lain berbunyi :

من احب لله وابغض لله واعطى لله ومنع لله فقد استكمل الايمان (رواه ابو داود والضياء عن ابى أمامة باسناد صحيح)

“Barangsiapa cinta karena Alloh (Lillah), benci karena Alloh, memberi karena Alloh dan menolak (tidak memberi) karena Alloh, maka sungguh telah sempurna imannya”.

(HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).



Ditegaskan pula dalam hadist SAW yang lain :

طوبى للمخلصين أولئك مصابيح الهدى تنجلى عنهم كل فتنة ظلمآء (رواه ابو نعيم عن ثوبان)

“Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas. Mereka-mereka itulah sebagai lampu-lampunya petunjuk, dimana segala fitnah yang digambarkan sebagai kegelapan menjadi jelas bagi mereka”. (HR. Abu Nu’aim dari Tsauban)



Dengan demikian, maka wajib bagi seseorang ketika menjalankan amal untuk niat karena Alloh (Lillah). Apabila tidak demikian, pasti ia karena didorong oleh nafsu (Linafsi). Dan amal yang didorong oleh nafsu akan melahirkan riya’, sum’ah (ingin terkenal), riyasah (membanggakan amal), chubbul jahi wal maali wal madchi ( pamrih kedudukan, materi dan pujian) dan sebagainya. Padahal semua sifat tersebut sangat tercela menurut syari’at Rosul SAW, dan dapat menghancurkan pahala amal. Orang yang berbuat demikian termasuk orang beriman secara lisan, namun munafiq dalam amal, bahkan ia sebagai budak syaithon dan penipu Tuhan. Dan menurut Imam Qhozali “Semua amal dengan tujuan selain Alloh adalah campur dengan syirik, dan amal yang campur baginya tanpa pahala. Dan ikhlas adalah kebalikan dari syirik, maka barangsiapa yang tidak ikhlas, ia adalah musyrik, meskipun syirik itu bertingkat-tingkat”.



Rosul SAW bersabda:

قال تعالى: أنا أغنى الشركآء عن الشرك أنا غنى عن الذى فيه شركة لغيرى فمن عمل عملا أشرك فيه غيرى فأنا منه برئ (ذكره الفقيه السمرقندى فى تنبيه الغافلين من حديث ابى هريرة رضىلله عنه)

“Alloh berfirman: “Aku adalah jauh dari persekutuan dan Aku cukup dengan diri-Ku sendiri tanpa persekutuan. Maka barangsiapa menyekutukan amal selain Aku, Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh ahli fiqh Syeh As-Samroqondy dalam kitab Tanbihul ghofilin dari hadist Abi Huroiroh ra).



Rosul SAW bersabda:

ان الله لا يقبل من العمل الا ما كان خالصا وابتغى به وجهه (رواه النساء عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima dari suatu amal kecuali amal yang ikhlas, maka hendaklah kamu beramal ikhlas karena Alloh (Lillah)”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).



Diceritakan dalam kitab Tanbihul Ghofilin, ada seorang  bertanya kepada Nabi SAW: “Yaa Rosulalloh di dalam apa keselamatan itu……? Rosul SAW menjawab: “Hendaknya kamu tidak menipu Alloh..! lalu ia bertanya lagi: “Bagaimana kami bisa menipu Alloh…..?. kemudian Rosul SAW bersabda: “kamu mengerjakan amal yang diperintah Alloh, dan kamu punya tujuan (niat) selain Alloh”.

Imam Qhozaly mengatakan bahwa “Ikhlas dalam amal itu hendaknya orang yang beramal tidak mengharapkan balasan di dunia maupun di akhirat”. Ini isyarah yang menunjukkan bahwa kemauan nafsu itu jahat, tergesa-gesa ingin berhasil, serta seseorang tidak lepas dari gangguan syaithon kecuali orang yang ikhlas. Alloh berfirman Qs Al-hajr 39-40 :

قال رب بما اغويتنى لأزينن لهم فى الأرض ولأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين

“Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siat di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas diantara mereka”.



Oleh sebab itu sungguh sia-sia golongannya para ahli ibadah (secara lahiriyah) mereka banyak membaca Al-Qur’an, melakukan sholat dan puasa, namun mereka  selalu riya’, membangggakan amal dan tidak ikhlas. Padahal kepalanya amal itu tauhid; artinya seseorang tidak ibadah (mengabdi) kecuali hanya karena Alloh (Lillah), dan barangsipa mengikuti nafsunya (Linafsi), maka sungguh ia telah mempertuhan hawa nafsunya dan ia sebagai orang yang bertauhid (iman) secara lisan, tidak dengan hatinya. Dan tidak ada bedanya antara orang-orang yang ibadah karena nafsunya (linafsi) dengan orang yang menyembah berhala, karena keduanya sebagai pengabdi (penyembah), namun menyembah selain Alloh.



Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله.

“Siapakah orang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang tidak mendapat petunjuk dari Alloh”.



Rosul SAW bersabda :

ابغض اله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى (رواه الطبرانى عن ابى أمامة).

“Berhala-berhala sesembahan diatas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah).



Adapun orang yang luas pandangannya dan tinggi ilmunya, maka ia akan mempergunakan akal fikirannya dalam memahami sabda Nabi SAW yang berbunyi: “Innamal ‘A’maalu binniyat”. Dan ia akan menjadikan kandungan hadist tersebut sebagai bagian dari gerak dan diamnya, sehingga ia tidak melakukan dan meninggalkan amal, kecuali dengan niat yang baik dan tujuan yang benar; yaitu semata-mata niat karena Alloh (Lillah). Maka dengan demikian semua amal perbuatanya menjadi “Ibadah” dan balasan amalnya (pahala) itu akan menjadi haknya, serta kembalinya adalah taqorub (mendekatkan diri kepada Alloh).



Oleh sebab itu hendaklah kita punya niat yang baik di dalam melakukan amal perbuatan, sampai bisa membuat perkara mubah menjadi nilai ta’at (ibadah) kepada Alloh, karena perkara mubah itu bisa menjadi nilai ta’at dengan niat yang baik; yaitu Lillah. Dan di dalam perkara haram dan makruh, maka meninggalkannya harus niat karena diperintah Alloh (Lillah), sehingga akan berbeda dengan kefahaman orang bodoh yang menganggap bahwa kema’siatan bisa berubah menjadi ta’at dengan niat yang baik, karena berpedoman pada bunyi hadist “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”. Dan ia tidak menyadari bahwa sesunggunya kebaikan itu adalah perkara yang sudah diketahui kebaikannya secara hukum syari’at, maka bagaimana mungkin perkara jelek (ma’siat) bisa berubah menjadi perkara baik. Itu sangat mustahil dan jauh sekali…!



Rosul SAW bersabda:

الحلال ما أحل الله فى كتابه والحرام ما حرم الله فى كتابه وما سكت عنه مما عفى عنه

(رواه الترمذى والبيهقى والحاكم عن سلمان باسناد صحيح)

“Halal itu perkara yang sudah dihalalkan Alloh dalam kitab-Nya, dan haram adalah perkara yang sudah diharamkan Alloh dalam kitab-Nya. Dan perkara yang tidak dihukumi itu boleh dilakukan”. (HR. Turmudzi, baihaqi, Hakim dari Salman dengan sanad shoheh).



3. Beramal Karena Takut Dan Pengharapan


Lillah (ihklas) semata-mata karena dan untuk Alloh itu, bukan berarti menutup pintu harapan ingin terhadap pahala, surga dan sebagainya atau takut siksa neraka dan sebagainya. Kita harus ingin kepada hal-hal yang baik yang menguntungkan dan harus takut kepada hal-hal yang buruk yang merugikan. Akan tetapi di dalam kita ingin atau takut itulah yang harus kita niati ibadah Lillah, sebab kita memang diperintah supaya berharap kepada pahala, surga dan lain-lain, dan supaya takut kepada siksa neraka dan lain-lain. Jadi amal-amal ibadah kita apa saja seperti Sholat, puasa, baca Al-Qur’an, dzikir, baca Sholawat, menolong orang lain dan sebagainya jangan sampai didorong oleh rasa ingin atau takut, melainkan didorong oleh pengabdian diri, niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas tanpa pamrih “Lillahi Ta’aala”.



Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 29 :

وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون.

“Sembahlah Alloh dengan meng-ikhlas-kan keta’atanmu kepada-Nya”.



Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof  55 :

وادعوه خوفا وطمعا ان رحمت الله قريب من المحسنين


“Dan beribadahlah kepada Alloh dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Alloh itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.



4. Kerugiannya Orang Yang  Tidak Lillah

Orang yang tidak Lillah, namanya Lighoirillah. Berbuat dan beramal tidak karena Alloh melainkan karena selain Alloh. Istilah Wahidiyah disebut Linafsi. Berbuat atau beramal hanya karena menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsunya. Kelihatan ta’at hanya pada lahiriyahnya saja. Sedang batinya adalah menuruti nafsu, berarti dia diperalat oleh nafsunya. Diperbudak nafsunya. Dengan kata lain dia mengabdi atau menyembah kepada hawa nafsunya sendiri !. dan orang yang demikian inilah yang termasuk golongan orang yang amal ibadahnya tidak diterima dan  tidak  mendapat petunjuk dari Alloh.



Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ط ان الله لا يهدى القوم الظلمين.

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun ?. sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim”.



Nabi SAW bersabda :

ان الله تعالى لا يقبل من العمل الا ما كان له خالصا وابتغى به وجهه (رواه النسائى عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima daripada amal kecuali amal yang sungguh-sungguh ikhlas (Lillah) semata-mata mengharap ridlo-Nya”. (HR. Nasa’i dari Abi Umamah).



Kesimpulannya orang yang beramal ibadah hanya menurut kemauan nafsunya, amal perbuatan apa saja berarti ia menyembah kepada nafsunya sendiri. Dia adalah hamba daripada nafsunya, dia mempertuhan nafsunya. Dan nafsu itu adalah yang paling dimurkai oleh Alloh, maka dengan sendirinya orang yang menjadi hamba nafsu itulah orang yang paling dimurkai Alloh.



Nabi SAW bersabda :

ابغض إله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى (رواه الطبرانى عن ابى أمامة الباهلى )

“Berhala sesembahan di bumi yang paling dimurkai dan dikecam oleh Alloh adalah “hawa nafsu”. (HR. Tobroni dari Abi Umamah Al-bahili)